Kamis, 21 April 2011

Ujian Nasional : Masih Layak kah?

Yap,,beberapa hari terakhir anak SMA seluruh Indonesia lagi galau-galau nya menghadapi 2 huruf yang penuh makna ini. UN. Semua pasti tau tentang apa itu UN dan apa yang telah di perbuat kepada anak SMA tahun terahkhir.

Oke,,According to my past experience.
Ini juga hampir bikin gw ga lulus SMA waktu itu,,karena saking takutnya gue buat ngadepin yang namanya matematika,fisika, ama kimia. Takut ga lulus,, cuma itu yang ada di pala gue. Walau udah belajar keras, masih tetep takut. Kenapa? karena senior 1 tahun di atas gue ada yang ga lulus karena 1 mata pelajaran ( gw lupa apa itu), padahal dalam KBM sehari-hari dia termasuk anak yang luar di atas rata2 nilainya, tapi begitu UN itu lah hasilnya. Itu baru satu contoh,,di koran-koran pasti juga masih banyak cerita yang kaya gini.

Well,,kalo yang gw tangkep dari kasus-kasus yang gue baca,,intinya cuma satu,,yaitu mereka takut dengan garis batas kelulusan yang tiap tahun makin tinggi, jadi selagi mereka ngerjain soal itu,, mungkin terbayang2 gmana mereka kalo ga lulus nanti. Malu yang bakal di tanggung,,di cap bodoh,,atau apapun itu.

Fenomena lain dalam UN adalah KECURANGAN.
well,ketika UN menjelang,,ga cuma siseanya yang takut, guru, dan kepala sekolah juga pasti ketar-ketir menjelang UN ini. Kenapa?Karena nama mereka dan nama sekolah mereka,terutama, di pertaruhkan dengan berapa jumlah siswanya yang ga lulus.
Berdasarkan ketakutan ini, apapun akan mereka lakukan untuk membantu siswanya lulus, walaupun yang mereka lakukan jadinya malah membentuk orang-orang yang ga berintegritas, yang justru malah akan merugikan bangsa ini.
Biasanya para pengawas akan di mengawas bukan tempat di mana mereka mengajar, tetapi di sekolah yang lain. Hal ini dilakukan untuk menghindari kecurangan yang dilakukan oleh sang guru. Tapi itu bukan jadi penghalang, atas dasar rasa takut yang sama-sama di rasakan para guru, mereka pun bekerja sama untuk melonggarkan pengawasan saat ujian. Kasarnya, cuma numpang duduk doang dalam ruang ujian.
Dan, ga sampe situ aja,,nanti ada guru yg liat2 soal, trus di kerjain, trus jawabannya di sms ke anak murid nya.
canggih kan?

Jadi,kalo di bilang UN sebagai Indikator pendidikan Indonesia, gw ga setuju.
Dua alasan tadi sudah cukup menjelaskan.
UN bisa saja tetap di adain, tapi jangan sebagai penentu kelulusan, karena yang paling tahu murid itu cuma guru di sekolah itu sendiri. Jadi ga bisa hasil belajar 3 tahun ditentukan lulus tidak nya hanya dalam 12 jam.
Seharusnya, hasil mereka belajar itu di lihat juga bagaiman proses mereka belajar selama 3 tahun dan di dukung dengan hasil mereka di akhir tahun ke-3 mereka. Setiap sekolah punya rapor untuk tiap-tiap siswanya, itulah yang seharisnya manjadi tolok ukur, mereka layak atau tidak untuk lulus, bukan dari sekedar hasil menjawab 40 soal pilihan berganda yang itu pun belum jelas di kerjakan secara mandiri atau mendapat bocoran soal.
Alhasil, semua lulusan dan nilai-nilai yang ada (ga semua) bisa di bilang palsu, karena itu bukan hasil mereka,hasil orang lain, kalo mau di tanya berapa yang lulus,, ya orang yang memberikan jawaban itu aja, sisanya ga.

Udah waktunya UN ini di tinjau lagi, mau berapa banyak lagi korban-korban perusakan pendidikan ini?


Dari UN ini, para "Bapak-Bapak" di sna juga udah bisa liat gimana nantinya kualitas SDM kita.
Mungkin secara nilai, di atas kertas mereka luar biasa, tapi urusan praktik nya 0, urusan integritas MINUS.
Sementara, kita selalu mengharapkan orang-orang yang berintegritas untuk mengubah bangsa ini.
Kalau "Bapak-Bapak" peduli, ayo di rubah yoo...

Kalau mau bangsa ini berubah, kalau mau bangsa ini bebas korupsi, Ubah lah sistem pendidikan kita yang udah carut marut.
Benahin sama-sama yo....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar